profil pribadiku

Sholehati Amalia program DCC Wearnes Education Center

Pages

teks berjalan

SELAMAT DATANG di Blog LOMBOK NUANSA NUSANTARA, Semoga apa yang ada di blog ini dapat bermanfaat

Total Tayangan Halaman

Rabu, 08 Oktober 2014

Kepercayan 3 Waktu Shalat LOMBOK UTARA


Bayan adalah wilayah yang menjadi perbatasan antara Lombok Utara dengan Lombok Timur. Posisi Bayan yang jauh dari Tanjung, pusat pemerintahan Lombok Utara, membuatnya  jauh dari hiruk pikuk. Ini merupakan faktor utama untuk mempertahankan adat dan budaya yang kental di Bayan. Meski kental dengan adat budaya yang diwariskan secara turun temurun, Masyarakat Bayan bukanlah masyarakat yang tertutup dari kehidupan modern. Tapi kekuatan mereka dalam mempertahankan adat dan budaya tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri untuk dicermati.

Salah satu warisan budaya dan objek wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Bayan adalah Masjid Kuno Bayan Beleq. Meski dinamakan masjid, namun fungsi dari masjid tersebut tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid Kuno Bayan hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Untuk kegiatan rutinitas, perayaan hanya dilakukan dalam selisih tiga hari. Misalnya, jika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka ritual di masjid ini akan dilaksanakan pada hari Seninnya.
Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 500 tahun yang lalu, tak seorang pun tahu siapa yang membangun masjid ini.  Beberapa sumber menyebutkan, Masjid Kuno Bayan dibangun sekitar abad ke 16 M. Ceritanya, Sunan Giri dari Gresik menyebarkan agama Islam ke Pulau Lombok. Ketika sampai di Desa Bayan, Sunan diterima oleh Raja Bayan yang bergelar Datu Bayan, kemudian Sunan diberi sebidang tanah untuk mendirikan masjid. Tak ada kejelasan, apakah masjid ini dibangun langsung oleh Sunan Giri, atau oleh tokoh lain yang datang kemudian menggantikan posisinya.
Menurut sumber lain, yang menyebarkan Islam ke tanah Lombok adalah Sunan Prapen, bukan Sunan Giri. Sunan Prapen dikenal juga dengan nama Pangeran Senopati, dan merupakan cucu Sunan Giri. Jika data sejarah ini yang benar, maka Masjid Kuno Bayan jelas tidak mungkin dibangun oleh Sunan Giri. Memang ada perbedaan data sejarah, tapi semuanya sepakat bahwa masjid ini telah berusia sangat tua.



Ketika tiba di gerbang masjid, kami disambut penjaga masjid yang mengaku bernama Raden Kertamurti. Awalnya kami disambut dengan tatapan dingin. Tapi ketika obrolan mulai cair, beliau mengantarkan kami ke area masjid. Dari awal masuk kami sudah disuguhi dengan suasana alam yang masih alami dengan hamparan sawah berundak. Sambil melihat para petani yang sedang bekerja, Raden Kertamurti dengan ramahnya menceritakan tentang asal usul Masjid Kuno Bayan beserta ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat yang tinggal di seputaran masjid

Meski dinamakan masjid, namun fungsinya tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid ini hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Tidak semua orang Islam di sana melakukan sembahyang, yang sembahyang di sana hanyalah para Kyai, mulai dari Kyai Pengulu, Kyai Ketip, Kyai Lebe, Kyai Modin, Kyai Raden dan Kyai Santri.

0 komentar:

Posting Komentar