profil pribadiku

Sholehati Amalia program DCC Wearnes Education Center

Pages

teks berjalan

SELAMAT DATANG di Blog LOMBOK NUANSA NUSANTARA, Semoga apa yang ada di blog ini dapat bermanfaat

Total Tayangan Halaman

Kamis, 09 Oktober 2014

Tradisi Presean Adat Sasak Lombok

Melihat Serunya Presean di Lombok


Presean atau bertarung dengan rotan adalah budaya dari Suku Sasak yang unik. Pada awalnya Presean hanya dilakukan saat upacara adat yang selalu dilaksanakan pada bulan tujuh (kalender Sasak) untuk meminta hujan. Namun kini Presean kerap dilakukan pada perayaan hari kemerdekaan RI dan menjadi tontonan yang unik dan diminati wisatawan.
Presean ini dilakukan oleh dua orang lelaki Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan (penyalin) dan memakai perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal yang biasa disebut Ende. Pertarungan ini dipimpin oleh dua wasit. Yakni Pakembar Sedi yaitu wasit yang berada di pinggir lapangan dan Pakembar Tengaq, yaitu wasit yang berada di tengah lapangan. Selama pertarungan berlangsung, masing-masing petarung atau pepadu saling menyerang dan menangkis sabetan lawan dengan menggunakan Ende. Petarungan diadakan dengan sistem 5 ronde. Pemenang dalam Presean ditentukan dengan dua cara yaitu ketika kepala atau anggota badan salah satu petarung mengeluarkan darah, maka pertarungan dianggap selesai dan pihak yang menang adalah yang tidak mengeluarkan darah. Kedua, jika petarung sama-sama mampu bertahan selama 5 ronde, maka pemenangnya ditentukan dengan skor tertinggi. Skor didasarkan pada pengamatan pekembar sedi terhadap seluruh jalannya pertarungan.
Uniknya, Presean juga diiringi musik yang disebut gendang (gending) presean. Alat-alat musiknya terdiri dari dua buah gendang, satu buah petuk, satu set rencek, satu buah gong dan satu buah suling. Jenis-jenis gending Presean dibagi menjadi 3 macam, yakni gending rangsang yaitu gending yang dimainkan pada saat Pakembar dengan dibantu pengadol mencari petarung dan lawan tandingnya. Kedua, gending mayuang, yaitu gending yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa telah ada dua pepadu yang siap dan sama-sama berani melakukan Presean. Yang ketiga adalah gending beradu yaitu gending yang bertujuan untuk membangkitkan semangat petarung maupun penonton dan dimainkan selama berlangsungnya pertarungan.



Nah, walaupun namanya pertarungan, namun setiap akhir acara, masing-masing petarung harus berpelukan dan tidak menyimpan dendam. Petarung yang terluka akan segera diobati oleh dukun dengan sejenis obat minyak dan ramuan tertentu. Seni ini bertujuan untuk menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seorang pepadu dalam pertandingan. Uniknya, para pepadu tidak dipersiapkan sebelumnya karena para petarung diambil dari penonton sendiri ketika acara dimulai. Ada dua cara untuk mendapatkan pepadu atau petarung yakni dengan wasit menunjuk langsung penonton yang hadir atau seorang pepadu yang telah memasuki arena menantang penonton untuk melawannya. Tak heran jika, saat Presean digelar, penonton akan meluber di pinggir arena. Permainan ini selain seru juga menjadi aset budaya Lombok.



Tradisi di Lombok yang hingga kini masih dilakukan tidak hanya presean, tapi ada banyak lagi. Seperti perayaan Bau Nyale di Pantai SegarNyalamak Dilau di pelabuhan Tanjung Luar dan Serah Ancak yang dilakukan warga sekitar Masjid Kuno Bayan Belek. Masing-masing tradisi dilakukan pada hari-hari tertentu, sehingga jika ingin melihat dari dekat, Anda harus mengetahui jadwal pasti dan tempat penyelenggaraannya. Selain mengetahui agenda budaya dengan jelas agar tak ketinggalan, juga perlu memperhitungkan hotel atau penginapan yang akan dihuni selama liburan. Beberapa hotel yang berada di kawasan Senggigi adalah Puri Mas Boutique Resort & SpaMascot Beach Hotel atau The Puncak.
Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian.


Rabu, 08 Oktober 2014

WISATA GILI DI LOMBOK

KUNJUNGAN TIGA GILI

Ada tiga gili atau pulau kecil yang terkenal di Lombok, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Ketiga pulau tersebut, letaknya berdekatan dan mudah untuk dikunjungi.
Ketiga gili ini layak disebut sebagai surganya para penyelam. Keindahan bawah lautnya akan mencuri hati Anda. Air yang jernih dan kaya akan biota laut, menjadikan kegiatan menyelam sebagai agenda wajib di gili-gili tersebut. Tidak hanya bawah airnya, pantai gili pun sangatlah menggoda. Hamparan pasir putih membuat Anda nyaman untuk menghabiskan waktu di pinggir pantai.
Uniknya lagi, di ketiga gili tersebut bebas dari polusi. Kendaraan bermotor dilarang di ketiga pulau kecil tersebut. Jadi, Anda akan mendapatkan kenyamanan lebih berupa udara segar tiap hari. Akomodasi yang lengkap dan masyarakatnya juga sangat ramah akan Anda temui di tempat ini, dijamin Anda akan berlibur sampai puas di sana

NAIK CIDOMO


Cidomo merupakan transportasi tradisional khas Lombok. Hampir sama dengan bendi di Sumbar atau andong di Yogya, cidomo adalah kereta yang ditarik dengan kuda. Uniknya, roda yang digunakan oleh cidomo adalah roda mobil. Ada sensasi tersendiri saat naik kendaraan ini.
Anda dapat menemukan cidomo di setiap daerah di Lombok. Di tiga gili, Gili Trawangan, Meno dan Air, kendaraan ini pun menjadi transportasi utama di pulau-pulau kecil tersebut. Naik cidomo akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Anda akan menjelajahi sudut-sudut Lombok yang cantik dengan kereta kuda ini. Jangan lupa siapkan kamera untuk membidik tempat-tempat yang menarik.

Beromantis ria di Gili Nanggu


Bagi Anda para pengantin baru atau sepasang kekasih, Gili Nanggu adalah tempat yang wajib dikunjungi. Pulau kecil ini berada di Lombok Barat, atau sekitar 1 jam perjalanan ke arah selatan Kota Pelabuhan Lembar.
Pulau seluas 8 hektar ini, memiliki resort dengan gaya tradisional lengkap dengan atap jeraminya. Meski terkesan tradisional, penginapan ini sangatlah nyaman dan menjadi referensi yang menarik sebagai tempat untuk berbulan madu. Pulau ini pun tidak terlalu ramai dan terdapat suasana yang tenang sepanjang waktunya.
Gili Nanggu juga memiliki pesona keindahan alam yang menawan. Berjalanlah menyusuri pantainya yang berpasir putih bersama pasangan, menikmati deburan ombak, dan memandangi lautan yang biru. Tak hanya itu, Anda juga bisa snorkeling untuk menikmati kekayaan alam bawah lautnya. Melihat ikan-ikan lucu dan terumbu karang berwarna-warni bersama pasangan akan terasa sangat menyenangkan.

BERMALAM DI GILI TRAWANGAN



Jika Anda penggemar pesta hingga larut malam, Gili Trawangan adalah tempatnya. Tepatnya di Central atau biasa disebut Pasar Seni di Gili Trawangan, terdapat bar-bar dan cafe yang buka sepanjang larut malam.
Jejeran bar dan hingar bingar musik siap menyulap malam Anda Gili Trawangan menjadi meriah. Semua wisatawan, baik dari dalam dan luar negeri menjadi satu di tempat ini untuk berpesta. Tertarik?

 Silahkan hubungi kami LOMBOK NUANSA NUSANTARA

Kepercayan 3 Waktu Shalat LOMBOK UTARA


Bayan adalah wilayah yang menjadi perbatasan antara Lombok Utara dengan Lombok Timur. Posisi Bayan yang jauh dari Tanjung, pusat pemerintahan Lombok Utara, membuatnya  jauh dari hiruk pikuk. Ini merupakan faktor utama untuk mempertahankan adat dan budaya yang kental di Bayan. Meski kental dengan adat budaya yang diwariskan secara turun temurun, Masyarakat Bayan bukanlah masyarakat yang tertutup dari kehidupan modern. Tapi kekuatan mereka dalam mempertahankan adat dan budaya tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri untuk dicermati.

Salah satu warisan budaya dan objek wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Bayan adalah Masjid Kuno Bayan Beleq. Meski dinamakan masjid, namun fungsi dari masjid tersebut tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid Kuno Bayan hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Untuk kegiatan rutinitas, perayaan hanya dilakukan dalam selisih tiga hari. Misalnya, jika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka ritual di masjid ini akan dilaksanakan pada hari Seninnya.
Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 500 tahun yang lalu, tak seorang pun tahu siapa yang membangun masjid ini.  Beberapa sumber menyebutkan, Masjid Kuno Bayan dibangun sekitar abad ke 16 M. Ceritanya, Sunan Giri dari Gresik menyebarkan agama Islam ke Pulau Lombok. Ketika sampai di Desa Bayan, Sunan diterima oleh Raja Bayan yang bergelar Datu Bayan, kemudian Sunan diberi sebidang tanah untuk mendirikan masjid. Tak ada kejelasan, apakah masjid ini dibangun langsung oleh Sunan Giri, atau oleh tokoh lain yang datang kemudian menggantikan posisinya.
Menurut sumber lain, yang menyebarkan Islam ke tanah Lombok adalah Sunan Prapen, bukan Sunan Giri. Sunan Prapen dikenal juga dengan nama Pangeran Senopati, dan merupakan cucu Sunan Giri. Jika data sejarah ini yang benar, maka Masjid Kuno Bayan jelas tidak mungkin dibangun oleh Sunan Giri. Memang ada perbedaan data sejarah, tapi semuanya sepakat bahwa masjid ini telah berusia sangat tua.



Ketika tiba di gerbang masjid, kami disambut penjaga masjid yang mengaku bernama Raden Kertamurti. Awalnya kami disambut dengan tatapan dingin. Tapi ketika obrolan mulai cair, beliau mengantarkan kami ke area masjid. Dari awal masuk kami sudah disuguhi dengan suasana alam yang masih alami dengan hamparan sawah berundak. Sambil melihat para petani yang sedang bekerja, Raden Kertamurti dengan ramahnya menceritakan tentang asal usul Masjid Kuno Bayan beserta ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat yang tinggal di seputaran masjid

Meski dinamakan masjid, namun fungsinya tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid ini hanya dipakai pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja. Tidak semua orang Islam di sana melakukan sembahyang, yang sembahyang di sana hanyalah para Kyai, mulai dari Kyai Pengulu, Kyai Ketip, Kyai Lebe, Kyai Modin, Kyai Raden dan Kyai Santri.